Restu Nur Wahyudin

-Teacher, Writer, and Adventurer-

Sorotan Horor dalam Demo Mahasiswa

Leave a Comment



Kompas kampus

Selasa, 2 November 2010

Sehari setelah demonstrasi bertepatan dengan satu tahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono - Boediono, situs Yahoo Indonesia menempatkan satu foto dari Flickr. Foto yang terpilih adalah foto demo sehari sebelumnya tanggal 20 Oktober 2010 yang diambil oleh pengguna akun JoniMetal/Naif Al'a.

Rangkaian foto bercerita mulai dari demo, negosiasi mahasiswa dengan polisi, hingga proses pembebasan tiga orang demonstran yang ditahan. Setiap foto tak ada keterangan tambahan kecuali judul foto. Jadi, tak ada pancingan provokatif.

Namun, foto itu menuai banyak komentar. Kekuatan media sosial yang bekerja seperti virus yang ganas menjalar, benar-benar bekerja pada foto-foto JoniMetal. Parahnya, kebanyakan komentar membantai apa yang dilakukan mahasiswa.

Kubu pro dan kontra dengan demo mahasiswa terbentuk secara otomatis. Namun uniknya, kubu kontra-demo lebih mempermasalahkan kegiatan demo yang sering memblokade jalan raya, jadi tak mencerminkan mereka kontra SBY.

Komentar yang pro dan yang kontra sebagian sama-sama tak bisa dikutip karena terlalu vulgar. Namun namanya politik, kontroversi semacam itu biasa. Bahkan, bukan tidak mungkin pula banyak pihak pro atau kontra membuat berbagai akun untuk menyuarakan kepentingannya.

Arsip komentar bisa dilihat di http://www.flickr.com/photos/delrozo/.

adhoez sniper: tetep aja demo bikin rakyat susah... emang tuh jalan bapak loe yang aspal ya... mahasiswa kok ga ada bedanya ma separatis... bisanya ngerusak doank...

fikri_diozz: saya juga mantan mahasiswa... baru beberapa bulan lulus. Sangat disayangkan memang melihat kondisi mahasiswa sekarang yang terlalu banyak tuntutan tapi belum melakukan apa-apa....

diana the aquarius: mulailah dari diri sendiri, dari sekarang dan dari yang kecil-kecil! Jangan hobi protes tapi ga bisa beri solusi... mau mengubah orang tapi ngurus diri sendiri aja ga becus.

Anak-anak SMA hingga mantan aktivis 1998 ikut berkomentar menyuarakan ketaksetujuan mereka atas teknik-teknik demo yang intinya: memacetkan jalan raya. Padahal, demo tahun 1998 tak sekadar menutup jalan raya, bukan?

Apa sebenarnya yang sedang terjadi di kota-kota besar Indonesia? Benarkah masyarakat kota dan mahasiswanya mulai apatis dan apolitis?

Beban reformasi

Setelah demo besar-besaran tahun 1998 yang berakhir dengan bergulirnya reformasi hingga kini gerakan mahasiswa seolah di bawah bayang-bayang kebesaran peristiwa 1998. Walau cita-cita reformasi tak sepenuhnya berhasil, aktivis 1998 punya klaim sejarah yang mampu menumbangkan Orde Baru.

Cerita seputar 1998 bukannya menciptakan iklim ”demokrasi jalanan” semakin mudah diterima masyarakat, melainkan justru sebaliknya. Kini mahasiswa justru semakin sulit mendapatkan ”legalitas” dari masyarakat untuk memacetkan jalan guna menyampaikan aspirasi kepada penguasa.

Semua seolah mengukur tingkat keperluan demo dengan kaos yang terjadi tahun 1998. Jadi, kalau belum kaos tak boleh menutup jalan untuk menyampaikan aspirasi? Sungguh berat!

”Demonstrasi merupakan bentuk kebebasan untuk berekspresi dan menyatakan pendapat. Karena itu, demonstrasi yang mengganggu kebebasan orang lain, seperti menimbulkan macet, telah kehilangan esensi demonstrasi,” kata Dwi Santosa, Jurusan Pendidikan Sosial Menengah Universitas Pelita Harapan.

Para demonstran biasanya merasa paling benar karena menganggap dirinya membela kepentingan rakyat. ”Kalau sampai akhirnya demo dimusuhi dan mendapat cercaan masyarakat, rakyat mana yang sebenarnya dibela?” ungkap Dwi.

Pengandaian unik disampaikan Ineke Yulianti, mahasiswa Jurusan Perhotelan STP Trisakti. ”Masyarakat kita kini beranggapan cooking demo dan culinary merupakan tontonan yang tren dan menyenangkan, bila dibandingkan melihat demonstrasi mahasiswa di jalanan,” katanya.

Demonstrasi mahasiswa kini punya citra berbeda dibanding demonstrasi mahasiswa massa Orde Baru tahun 1998. ”Meskipun sama-sama dengan cara mengerahkan massa dan turun ke jalan untuk menentang kekuasaan,” kata Ineke.

Sadar media

Protes lainnya adalah kekerasan seolah selalu menyertai setiap demonstrasi. Untuk urusan kekerasan yang menyertai demo sebenarnya bukan monopoli daerah tertentu, tetapi yang sering terekam di layar kaca adalah demo di Makassar.

Seorang wartawan televisi daerah menuturkan, demo dengan ornamen kekerasan dan wartawan daerah adalah ”simbiosis mutualisme”. Apa maksudnya? Walau dugaan ini tak sepenuhnya benar dan juga tak sehat, wartawan tadi mengatakan, ”Media dapat berita, dan demonstran dapat liputan.”

”Di daerah tertentu, para wartawan televisi mendulang pendapatan tinggi karena sering terjadi demo dengan berbagai aksi kekerasan,” katanya. Jadi, kalau ingin demo mendapat sorotan media televisi, harus ada unsur dramatis? Tidak percaya? Tanyakan kepada para wartawan televisi di daerah kamu!

Sindbad Okstanza Yusnawir, Jurusan Perikanan Unhas, yang juga Koordinator Liputan Penerbitan Kampus Identitas Unhas periode 2010, dengan fasih menganalisis fenomena ini. Sindbab memberikan istilah: demonstran sadar media.

”Agar pergerakan mahasiswa lebih efektif, mahasiswa harus sadar media, utamanya media elektronik,” kata Sinbad. Sadar dalam artian, media senang meliput peristiwa yang memiliki nilai berita. Aksi mahasiswa yang berakhir ricuh memang mengandung nilai berita yang pantas ditampilkan.

Namun, Sinbad memberikan peringatan, ”Kuncinya adalah nilai berita. Dalam nilai berita, tak hanya konflik dan kericuhan. Tapi masih banyak nilai-nilai berita lain yang dapat digambarkan mahasiswa kala berunjuk rasa,” katanya.

Misalnya nilai berita keunikan, sesuatu tak terduga, sesuatu yang luar biasa dan ketokohan. Jika mahasiswa paham akan nilai-nilai berita ini, ramulah satu metode unjuk rasa yang memuat nilai-nilai berita selain kericuhan.

”Pasti media akan meliput dan menampilkannya di layar televisi,” kata Sinbad.

Kalian masih ingat kan, foto demonstran yang memprotes rencana renovasi Gedung DPR/MPR yang konon dilengkapi fasilitas kolam renang dan sauna?

Demonstran berpakaian ala pergi ke sauna dan ke kolam renang, sambil memboyong kolam renang anak-anak terbuat dari plastik.

Menurut Sinbad, sebenarnya kekerasan sebagai instrumen, bukannya tanpa alasan. ”Mahasiswa sudah jenuh dan lelah menunggu pemerintah yang tidak peduli dan menganggap angin lalu aspirasi yang sebelumnya dikemukakan dengan damai. Pemerintah tak kunjung berbenah,” katanya.

Restu Nur Wahyudin, mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Subbidang Partisipasi Sosial Politik Mahasiswa Hima Satrasia, mengatakan, mahasiswa kerap disalahartikan sebagai demonstran yang cenderung meresahkan.

”Padahal, apa yang disuarakan bisa saja memperjuangkan hak- hak orang yang antipati terhadap demonstrasi,” kata Restu. Karena itu, demonstrasi perlu menjaga jarak dari tindak kekerasan dan peka agar tidak ada intervensi luar.

Terlepas dari berbagai sorotan, mahasiswa tetap harus menjaga spirit perubahan dan wajib kritis. ”Kritis tak mesti anarki. Kita bisa melakukannya dengan lebih santun dan bijak,” kata Jamil, mahasiswa Manajemen Dakwah IAIN Walisongo, Semarang.

(Amir Sodikin)

http://cetak.kompas.com/read/2010/11/02/04021519/sorotan.horor.dalam.demo..mahasiswa

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar