Restu Nur Wahyudin

-Teacher, Writer, and Adventurer-


Saya bersama siswi saya, Difla Nagib (kiri) peraih juara 1 lomba menulis cerpen FLS2N Depok 2016 dan Najma Aurora (kanan) peraih 
juara harapan 2 lomba cerpen FLS2N Depok.
Jika ada keterampilan yang berguna pada tiap zaman, kiranya itu tertuju pada menulis. Orang takkan tahu peristiwa sejarah dan hari ini tanpa adanya catatan yang tertulis. Menulis berarti juga menunjukkan eksistensi kita pada semesta. Sebagaimana yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer (2011) dalam bukunya Rumah Kaca, setinggi apapun seseorang, selama tak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah.

Beda dari tiap zaman terletak pada medianya. Bumi ini bak penyaksi bagaimana bebatuan, kulit pohon, dan kertas telah digunakan penghuninya sebagai media penyampai tulisan pada tiap zaman. Dan hari ini, memasuki era digital, manusia semakin dimudahkan untuk mengakses tulisan melalui media gawai.

Hanya saja, kemudahan tersebut seakan jadi bumerang bagi anak-anak kita. Globalisasi menuntut akses informasi untuk berpacu cepat. Melalui media sosial, anak dihadapkan pada teks-teks ringkas yang berlalu begitu cepat. Belum sempat menyerap satu teks, sudah datang jejalan teks lainnya. Alih-alih turut serta mencipta, anak-anak cenderung menjadi penikmat dari teks yang terus berlaju. Tak heran jika hari ini masih minim budaya menulis di kalangan anak-anak Indonesia.

Hal itu juga yang melecut misi saya setelah lulus dari kampus tahun 2014. Berbekal keterampilan yang telah ditempa dalam dunia kepenulisan, saya bertekad untuk mencetak generasi penulis. Sebagai catatan, tulisan saya pernah dimuat di sejumlah media cetak, seperti Pikiran Rakyat, Republika, Suara Merdeka, Galamedia, Inilah Koran, dan Kompas.

Tahun ini adalah tahun ketiga saya menapak jejak sebagai guru. Sampai tulisan ini tuntas, ikhtiar berbagi ilmu penulisan setidaknya mulai tampak. Buah kreativitas anak didik saya tersebar di media cetak, mulai dari Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Riau Pos, hingga Kompas. Adapun bentuk karyanya beragam, seperti puisi, esai, cerpen, dan cerita bergambar.

Karya siswa-siswi saya yang tersebar di media cetak.

Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi gagasan mengenai upaya meningkatkan keterampilan menulis di kalangan pelajar. Sejumput asa mencetak generasi penulis Indonesia.

Diary Pembaca
Tanpa membaca, rasanya mustahil akan menjadi penulis. Seumpama seseorang yang ingin bertubuh kekar tapi tak makan dan berolahraga. Membaca adalah kegiatan mengasup gagasan bagi penulis.

Di kelas, saya mencoba mengajak anak gemar membaca melalui diary pembaca. Saya terinspirasi oleh sosok guru bernama Ellen Gruwell dalam film Freedom Writers. Ia mampu mengubah kondisi kelas yang berisi anak berandalan menjadi sosok yang santun dan produktif melalui catatan harian yang mereka tulis.

Erin Gruwell (Hilary Swank) dalam film Freedom Writers. Film ini diadaptasi dari kisah nyata praktik pembelajaran Erin Gruwell.
Diary pembaca adalah catatan harian pegangan anak. Selain diisi oleh catatan harian, saya mengarahkan anak untuk mengisinya dengan kutipan-kutipan menarik dari teks yang mereka baca. Atau, bagi yang gemar menggambar, anak dapat menggambar sketsa yang terinspirasi dari teks bacaan. Pengisian Diary pembaca bisa dilakukan di manapun kala anak-anak luang dan tuntas membaca.

Saya merekomendasikan anak-anak untuk membaca buku sastra, seperti novel, cerpen atau puisi. Melalui sastra anak dapat menemukan kata-kata indah dan makna dari tiap peristiwa.

Kegiatan ini cukup menarik sebab mengolaborasikan keterampilan membaca dan menulis. Saya tak muluk-muluk, anak tak perlu panjang menulis kesan dari buku yang mereka baca. Dua atau tiga kalimat juga sudah cukup selama konsisten.

Tujuan diary pembaca adalah anak-anak bisa menyerap imajinasi yang mereka dapat dari buku bacaan. Kegiatan ini juga dapat menjadi pembiasaan menulis, agar tak kaget ketika hendak menulis teks yang cukup panjang.

Menghargai Keberagaman Imajinasi
Imajinasi adalah bekal utama dalam kreativitas. Semakin luas imajinasi anak maka akan semakin meningkatkan kreativitas berkarya. Imajinasi yang beragam akan membuat karya menjadi berwarna.

Pada pembelajaran menulis, saya tak pernah menentukan tema karangan.  Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi keseragaman berkarya. Seperti apa contoh keseragaman tersebut? Tentu kita pernah membaca karangan berjudul, “Berlibur ke Rumah Nenek” dan pada paragraf awalnya dimulai dengan frasa “pada suatu hari..” [Sekaitan hal tersebut, baca juga tulisan saya "Menyemai Benih Imajinasi"].

Keseragaman biasanya timbul akibat larangan-larangan menciptakan hal yang baru dalam berkarya. Akibat takut menciptakan inovasi, anak-anak lebih memilih bentuk yang telah ada.

Karenanya, saya lebih suka memantik inspirasi menulis anak melalui pertanyaan-pertanyaan, seperti “Menurut kalian, seperti apa cerita yang menarik dibaca itu?”, “Apakah harus ada konflik?”, “Seperti apa konflik cerita yang menarik itu?”, “Bayangkan jika kalian tokohnya?”

Kalau anak masih kesulitan saat menentukan imajinasi menulis, saya biasanya meminta untuk menulis empat kata yang terbayang dalam pikiran secara cepat. Misalnya, seorang anak menentukan kata pulang, rumah, ibu, dan laut. Kemudian saya memberikan stimulus pada anak untuk menghubungkan kata-kata tersebut jadi ide cerita, seorang pelaut yang lama tak pulang dan merindukan ibunya.

Selanjutnya, anak-anak diarahkan untuk membuat mind map dari ide awal cerita. Tuntas membuat kerangka cerita, saya meminta anak untuk menuliskannya dalam bentuk karangan. Hasilnya, isi karangan anak amat beragam baik berbentuk realis atau fantasi.

Ruang Diskusi Daring

Usai anak merampungkan karyanya, biasanya kami saling mengoreksi bersama. Anak-anak dibagi kelompok kecil, Duduk melingkar dan saling mengoreksi hasil karya teman-temannya. Biasanya anak membubuhi tanda pada bagian cerita yang menurutnya janggal. Saya menjadi penengah dari hasil koreksi tersebut, memberikan catatan dalam penulisan karangan.

Saya sengaja membentuk ruang diskusi daring pada media sosial Line. Ruang ini berbentuk grup bagi anak-anak yang memiliki peminatan khusus dalam kepenulisan. Anak-anak menamakannya sebagai klub literasi. Aktivitas ruang diskusi daring ini biasanya diisi dengan konsultasi menulis, cara mengirim ke media, informasi lomba penulisan, dan bedah buku yang baru terbit.

Ruang Diskusi Daring sebagai wadah konsultasi dan berbagi informasi mengenai kepenulisan siswa.

Ruang diskusi penulisan daring sangat mewadahi anak-anak penggemar sastra yang terbatas jarak dan waktu. Anak-anak juga bisa menyampaikan usulan program bagi sekolah, seperti mendatangkan penulis ke sekolah, konser musikalisasi puisi, dunasi buku, dan pelatihan menulis blog.

Ruang diskusi daring memudahkan saya untuk berbagi keterampilan menulis pada anak. Hasil karya yang telah dikonsultasikan nantinya akan dipublikasikan ke media cetak maupun blog masing-masing anak.

Berkolaborasi
Tentunya dalam ikhiar membudayakan keterampilan menulis di kalangan pelajar ini harus juga kita sadari bahwa semua anak memiliki kecerdasan masing-masing. Seumpama yang diwanti-wanti oleh Howard Gardner (2003) dalam buku Mulitple Intelligences tentang konsep kecerdasan majemuknya.

Tak semua anak akan jadi penulis berbakat. Ada yang unggul dalam bermusik, menggambar, atau bernyanyi. Setidaknya, keterampilan menulis ini dapat membantu jalan hidup mereka dengan bakatnya masing-masing.

Sebagai guru, saya tak memaksa semua anak harus handal dalam menulis karangan. Jalan tengahnya yakni mengolaborasikan bakatnya. Anak yang unggul dalam mengemas cerita, saya kolaborasikan dengan anak yang unggul menggambar.

Saya membuat tantangan bagi mereka untuk membuat proyek berupa komik. Mereka lantas menyanggupinya dan berkolaborasi. Persilangan ide terjadi. Hasilnya, komik anak tersebut dimuat di koran Kompas edisi 17 Oktober 2014.


Atau beberapa anak yang handal menulis terlibat dalam proses kreatif ekstrakurikuler film. Mereka berkolaborasi bersama anak-anak yang berbakat dalam peliputan dan penyuntingan video sehingga bisa menghasilkan karya berupa film pelajar.

Memiliki generasi yang gemar menulis bukanlah hal mustahil dimiliki oleh negeri ini. Perlu upaya bersama untuk merealisasikannya. Apabila itu terjadi, maka bangsa kita akan menjadi bagian penting dalam dinamika zaman.

Daftar Pustaka
Gardner, Howard. 2003. Multiple Intellegences. Batam: Interaksara.
Toer, Pramoedya Ananta. 2011. Rumah kaca. Jakarta: Lentera Dipantara.


*Restu Nur Wahyudin, guru bahasa Indonesia SMP Islam Dian Didaktika. Tulisan ini menjadi juara 1 lomba esai guru se-Depok yang diselenggarakan SIT Al-Haraki Depok.




Ketika kita bersama
Musim-musim menjelma irama
Mentari bersenandung
Hangatkan sunyi yang beku
Hujan bernyanyi menabur kemarau
Dan pepohonan menuntas rindu dengan air

Ketika kita bersama
Detak waktu terlelap
Keriangan telah memagari usia
Dari kejaran angka-angka

Bersatu dalam duka
Berbagi dan berterima
Seperti pena dan kata

Ketika kita bersama
Maka biarkan waktu terlelap
Sampai ia terbangun dan menutup mata
Kelak sang waktu bercerita pada pencipta
Tentang jejak sepasang manusia
yang membubung ke cakrawala

Cinere
2016
 

Pada dasarnya anekdot merupakan humor, sebab di dalamnya terdapat unsur kelucuan. Setiawan (Rahmanadji, 2007) mengutarakan bahwa teori humor jumlahnya sangat banyak, tidak satu pun yang sama persis dan bisa mendeskripsikan humor secara menyeluruh dan semua cenderung saling terpengaruh.
Sumber gambar goumbook.com
 
Kesehatan merupakan jaminan hidup siswa saat mengembangkan keterampilannya. Apabila tubuh sehat, maka akan semakin memudahkan siswa untuk berkreativitas. Semakin berkreasi, siswa kelak berprestasi sesuai keterampilannya. Sekolah sebagai wahana belajar bagi siswa, tentu harus memberikan jaminan kesehatan.
Previous PostPosting Lama Beranda